Review Series: Hormones The Series (Homecoming Masa Remaja)

      Belakangan ini yang saya lihat, industri hiburan Thailand sendiri mulai membuat beberapa serial televisi seperti halnya drama korea. Ada salah satu serial Thailand yang cukup menarik buat saya. Meskipun dari segi popularitas, serial Thailand belum se-populer drama korea. Namun, dari ide cerita dan makna dari cerita dalam serial itu sendiri cukup berkualitas.
   Salah satu serial terbaru Thailand berjudul Hormones The Series (HTS), menjadi moodboster saya belakangan ini. HTS dibagi menjadi 3 seeson. HTS season 1 diperankan oleh pemain generasi 1 (first gen). HTS season 2 diperankan oleh generasi 1 dan beberapa pemain generasi ke 2 (next gen). Sedangkan HTS season 3, diperankan oleh seluruh pemain generasi ke 2. Serial ini menghadirkan cerita yang dikemas secara jujur dan nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya lika-liku kehidupan remaja di Thailand. Tetapi secara keseluruhan kehidupan remaja yang digambarkan hampir sama dengan yang ada di Indonesia.
   Serial dari rumah produksi GTH dan Nadao Bangkok ini, menyajikan cerita dengan cara yang berbeda. Biasanya, sebuah serial hanya menonjolkan cerita dari pemain utama, yakni sekitar 2 atau 3. HTS menghadirkan sekitar 5-10 orang/lebih pemain utama. Serial ini berusaha menceritakan kehidupan setiap tokoh. Lebih unik nya lagi, masing-masing tokoh pemain mempunyai karakter khas masing-masing. Saat kita mengamati karakter yang ada di setiap tokoh, mungkin kita akan sadar bahwa di kehidupan nyata, kita juga pernah menemui orang-orang seperti yang digambarkan dalam cerita. Semua tokoh utama hidup dalam satu sekolah bernama Nadao Bangkok College, yang kemudian saling berelasi satu sama lain. Ada yang berteman, bersahabat, berpacaran, mantan pacar, saudara, musuh, dsb. Hubungan relasi antar tokoh kemudian juga di selimuti oleh berbagai konflik yang cukup seru.
 Macam-macam problem yang dimunculkan dalam serial juga sangat bervariasi di setiap episode nya, sehingga membuat penonton tidak merasa bosan. Ide cerita terkesan apa adanya dan saya rasa setiap orang mungkin pernah mengalami atau melihatnya. Episode 1 season 1, cukup membuat saya terkesan. Ketika itu salah satu murid bernama Win (Pachara Chirativat) yang mempertanyakan salah satu aturan di sekolah nya, tentang kewajiban mereka memakai seragam dan potong rambut bagi siswa laki-laki. Win bertanya-tanya, apa tujuan aturan ini dibuat?. Mengapa kita harus mengikuti aturan ini?. Sang guru hanya menjawab, karena aturan ini sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun, sehingga para murid harus mematuhinya. Bagi Win, ini belum bisa menjadi alasan yang bisa diterima. Dalam cerita, Win memiliki karakter sebagai anak yang kritis dan easy going. Namun, terkadang ia suka kurang berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Bagian cerita Win ini, mengingatkan kita bahwa seringkali kita berbuat sesuatu sesuai dengan aturan yang ada, tanpa bertanya mengapa aturan itu ada dan apa alasan dibuat nya aturan tersebut, serta apa esensi nya untuk kita. Saya rasa episode pertama ini menjadi pembuka yang bagus untuk season 1.
     Season demi season terlewati, ternyata HTS episode pertama di setiap season selalu menghadirkan cerita yang menarik sebagai pembuka. Episode 1 di season 2, bercerita tentang gaya hidup remaja yang hobi menonton serial/drama percintaan. Tetapi, sayangnya drama yang ditonton kurang mendidik, karena menampilkan adegan seks pasangan remaja. Drama ini kemudian mendapat kecaman dari salah satu orang tua murid, yaitu Ibu dari Dao (Sanantachat Thanapatpisal), yang di dalam ceritanya, memiliki karakter sebagai orang tua yang konservatif dan protektif terhadap anaknya.
    Season 3 pun tak kalah serunya. Episode pertama di season terakhir ini, bercerita tentang problematika remaja dalam kehidupan organisasi di sekolahnya. Dimana dalam organisasi tersebut terdapat 2 tipe orang yang di gadang-gadang sebagai calon pemimpin. Non (Thiti Mahayotaruk) adalah anak yang periang dan selalu punya perhatian lebih kepada teman-temannya, serta senantiasa bersikap friendly kepada semua orang. Ia harus berhadapan dengan seorang temannya, yang sebenarnya juga menginginkan posisi sebagai President Of Student Council, yaitu Boss (Sarit Trilervichien). Boss dikenal sebagai anak yang tidak banyak bicara, sedikit angkuh, dan idealis. Non punya dukungan lebih banyak dari teman-temannya, sehingga ia dianggap sebagai orang yang cukup populer di sekolah nya. Sementara Boss, tidak punya banyak teman dan tidak se-populer Non. Tetapi Boss merasa bahwa siapapun punya potensi untuk menjadi pemimpin, tidak hanya orang yang populer saja yang bisa mendapatkan posisi ini. Pada saat masih SMA, di satu sisi saya pun memiliki pola pikir yang sama seperti Boss. Terkadang pemimpin sebuah organisasi dipilih karena kepopulerannya. Padahal, semua orang punya potensi, meskipun mungkin mereka tidak populer di lingkungannya.
   Tak akan ada habis nya jika mereview serial yang satu ini. Secara keseluruhan HTS menampilkan problem-problem remaja terkini yang tak jauh dari kehidupan sehari-hari kita. Masih banyak cerita hidup remaja dalam serial ini yang menarik untuk kita ikuti. Asmara, persahabatan, broken home, seks bebas, LGBT, narkoba, Married By Accident (MBA), tawuran, pelecehan seksual, passion, dan masih banyak lagi. Semua ada dalam serial HTS. Serial ini, recomended untuk siapa saja yang sedang mengalami dinamika masa remaja. Bagi yang sudah melewati masa remaja, serial ini bisa menjadi ajang untuk bernostalgia. Tak terkecuali juga untuk para orang tua, mereka bisa belajar tentang kehidupan remaja zaman sekarang melalui serial HTS. Serial ini telah berakhir pada bulan desember 2015 lalu, bersamaan dengan ditutup nya rumah produksi GTH. Para pemain dan segala problematikanya dalam cerita akan selalu dirindukan oleh para fans nya. Semoga ada serial baru yang tak kalah seru nya.

Komentar

Postingan Populer