Melawan Demam Berdarah


Ini berawal saat aku sedang mengikuti kegiatan KKN tahun 2016 lalu, di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, saat aku sedang melakukan survei sosial bersama kedua temanku di Desa Pangolombian, desa terjauh dari lokasi tempat tinggal kami.

Hujan turun kembali membasahi tanah Tomohon dan Minahasa sore itu. Setelah menempuh perjalanan dari Pangolombian sampai Leilem, turun dari angkot aku bersama kedua temanku bergegas menuju rumah, sambil berlindung dibawah mantel. Aku yang sedang kelaparan saat itu langsung menuju dapur dan merebus mie instan. Semoga tetap bisa mengganjal perut walau dimakan tanpa nasi. Setelah makan aku bergegas tidur karena kelelahan dan badan mulai tak enak.

Tengah malam sekitar setengah dua pagi. Aku merasakan pusing yang luar biasa. Sebelumnya aku tak pernah merasa sepusing ini. Mungkin karena hari ini aku terlambat makan. Akhirnya aku memaksa diri turun dari kasur menuju dapur. Makan seadanya, dengan nugget dan nasi yang sudah dibuatkan oleh teman serumahku. Namun, pusingnya tak kunjung hilang. Aku sempat kesulitan untuk tidur lagi. Sampai akhirnya, aku terlelap secara tak sengaja. Sejak saat itu, kondisi ku kian melemah selama beberapa hari. Aku menganggap ini demam biasa dan akan cepat pulih. Tapi kondisi kian parah ketika aku mulai muntah-muntah, tak bisa menelan semua makanan. Merasa tak enak karena off beberapa hari dan program mulai terbengkalai, aku meminta tolong dua orang temanku untuk mengantarku ke klinik terdekat. Dokter sudah memberiku obat maag, tetapi tak juga manjur. Beberapa hari demam, aku hanya bisa menelan biskuit dan susu bearbrand pemberian salah sorang teman.

Ibu senantiasa memantau kesehatanku. Setiap hari ia menelepon ku. Ibu memintaku untuk opname di rumah sakit, supaya bisa dirawat dan diberi asupan lebih melalui infus. Kelewat cemas mungkin, ibu ku meminta saudara ku yang tinggal di Makassar untuk menengokku. Saudara ku punya anak buah yang kebetulan kerja di Manado, dua oraang bersama supirnya yang baik hati. Hari itu juga mereka berdua mengantarkan ku ke salah satu rumah sakit di Manado. Salah satu temanku ikut mengantarkanku sekaligus juga menjaga ku dirumah sakit.

RS Pancaran Kasih, Manado
Aku tiba di salah satu rumah sakit di Kota Manado pada malam hari dan langsung melakukan pemeriksaan laboraturium, hanya melalui tes darah. Saat itu aku berpikir, tak masalah jika Ibuku tak bisa datang kemari dan teman-teman yang sibuk dengan programnya, aku masih bisa menjaga diri dirumah sakit. Namun ternyata tidak mungkin aku sendiri, setelah hasil pemeriksaan laboraturium menyatakan aku positif terkena demam berdarah. Trombosit sudah menurun hingga 40.000 (untuk perempuan jumlah trombosit normal seharusnya 100.000), ini sudah terhitung sampai hari ke empat. Oh God, drop benar-benar drop. Tidak kepikiran sama sekali bakal terserang penyakit berbahaya ini.

Teman-teman secara bergantian menjagaku dirumah sakit. Di hari ke empat ini, sengaja dokter membawaku ke ruang UGD, dengan alasan tensi ku belum stabil dan butuh pendampingan yang intens. Memasuki hari ke lima, sore hari tensiku kian stabil, aku kemudian dibawa ke kamar rawat inap. Malam harinya, trombositku kian menurun menjadi 24000, lalu turun lagi menjadi 17000, sampai akhirnya berada di titik paling lemas di angka 12000. Malam itu empat orang suster datang ke kamarku. Mereka dengan sedikit panik kemudian memasangkan kateter (selang untuk buang air kecil bagi yang sedang sakit/tidak bisa berjalan). Mengapa harus dipasang kateter? Kata dokter, ini memudahkan pasien untuk buang air kecil. Pasien demam berdarah sebaiknya jangan melakukan aktivitas, terutama berjalan-jalan, karena hal ini berpotensi membuat dia jatuh dan terluka. Pasien demam berdarah tidak boleh terluka, karena darah yang dikeluarkan akan susah berhenti. Kalau bukan karena alasan tersebut, aku tidak akan mennggunakan alat ini. Kateter tidak membuatku nyaman buang air kecil.

Pagi hari di hari ke enam, trombositku tak kunjung naik. Aku masih saja tak nafsu makan dan berkali-kali sudah aku memuntahkan makanan rumah sakit. Namun, aku tetap dipaksa untuk makan, meskipun hanya sedikit. Anak buah saudaraku yang membawaku ke rumah sakit juga membawakan aku jus jambu. Selain obat, jus jambu juga berkhasiat meningkatkan trombosit. Badan begitu lemas, otak tak mampu berpikir, teman mengajak berbicara pun tak sanggup ku tanggapi. Sore menjelang malam, trombositku mulai bertambah, kini naik jumlahnya menjadi 19000. Teman-teman yang menjagaku terus menhiburku dan memberiku semangat. Aku berhasil melewati masa kritisku.

Selama berada di rumah sakit, pasien demam berdarah diberi obat, pemeriksaan tekanan darah beberapa kali dalam sehari, dan ambil darah sehari dua kali. Kunci penting melewati penyakit ini adalah menjalani pengobatan dengan konsisten, tetap makan teratur walaupun nafsu makan kacau, perbanyak minum air putih dan jus jambu. Dan yang tidak kalah penting adalah selalu memperhatikan kondisi tubuh dengan detail. Jika ada keluhan kesehatan, segeralah minum obat dan beristirahat. Apabila kondisi tidak sehat ini berlangsung lebih dari sehari, baiknya konsultasikan ke dokter. Apalagi kalau keluhannya demam dan susah makan, menurutku ini ada yang tidak beres pada tubuh kita. Jadi, jangan abaikan kondisi tubuhmu dan jaga pola hidup sebaik mungkin ya.


Komentar

Postingan Populer