Sendu dan Perjalanan Singkat ke Ibukota


Sore menjelang senja saat itu di Kompleks B-21, sekumpulan awak SKM UGM Bulaksumur duduk di gazebo, menunggu keberangkatan acara Jalan-jalan Media. Kesempatan kali ini destinasi kunjungan adalah Kota Jakarta. Beberapa media yang hendak dikunjungi, ada Kompas Gramedia, CNN Indonesia, dan Net Mediatama. Para awak Bul termasuk awak magang kala itu terlihat bersemangat. Meskipun, saat itu cuaca kurang bersahabat, sehingga dalam perjalanan mereka harus menerjang hujan dan angin. Bagi ku, acara Jalan-jalan media ini dimanfaatkan untuk mengusir kebosanannya ditengah-tengah kegalauan tugas akhir dan kepengurusan akhir organisasi. Mencuri-curi waktu untuk rehat sejenak dari segala kewajibanku. Bermodalkan uang 150 ribu saja untuk biaya transport dan makan, sengaja ku sisihkan, demi mobilitas ke luar kota yang mungkin bisa memberikan sedikit kecerahan berpikir menghadapi segala tantangan mahasiswa akhir.


Malam hari kami memulai perjalanan. Esok harinya, sekitar pukul 5 pagi, kami tiba di Cikampek untuk bersih-bersih dan ibadah. Kemudian memulai perjalanan lagi menuju Kompas Gramedia. Tak banyak yang berubah, sejak 7 tahun lalu aku berkunjung ke Ibukota dalam kegiatan Study Tour. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP kelas 2. Kemacetan, Slum Area, dan gedung pencakar langit, masih menjadi penghuni tetap ibokota.




Jakarta tetap menjadi sebuah "tujuan" bagi sebagian orang. Walau tak semua orang bernasib sama. Produktivitas warga ibukota, seakan menjadi tepukan pundak bagi ku, untuk segera bergegas memanfaatkan waktu yang singkat ini sebaik mungkin. Membangkitkan niat terasa berat bagi ku akhir-akhir ini. Begitu juga ketika tiba di perusahaan-perusahaan media dan sempat melihat kesibukan para pekerja di kantor mereka. Melihat sebagian orang mengantre di halte bus Trans Jakarta, demi pulang dan bertemu keluarga atau mungkin menuju tempat lain karena aktivitas mereka belum juga usai. Ini cukup menyadarkan ku, akan rasa syukur terhadap kota yang ku tinggali, masih belum serumit ibukota.Terlepas dari segala hiruk pikuk nya, Jakarta tetap menjadi sebuah pemicu dan landasan pacu bagi setiap manusia, yang ingin berevolusi.

Dalam perjalanan tujuan berikutnya, ke CNN Indonesia, ketimpangan juga masih banyak ditemui. Pemukiman kumuh/kawasan Slum Area masih menempati wilayah disekitar gedung-gedung tinggi. Kesenjangan ini begitu tampak secara fisik. Selesai berbagi ilmu dan pengalaman bersama rekan-rekan CNN, kami langsung menuju tempat bus kami berparkir. Hujan deras kembali turun menyirami ibukota, bersama kemacetannya. Aku berjalan cepat sambil menutupi tubuh ku dengan payung, berjalan melalui jembatan penyeberangan. Ketika turun dari jembatan, dalam kondisi jalan macet, ku mendengar suara orang mengendarai sepeda motor yang berhenti dibelakang bus, terjebak macet, menekan tombol klakson berkali-kali kepada kendaraan-kendaraan yang ada didepannya. Suara-suara klakson itu, menunjukkan kekesalan dan ketidaksabaran.

Demikianlah cerita perjalanan singkat yang sedikit banyak menggambarkan kehidupan kota. Tentunya hal ini dapat diungkapkan lebih dalam lagi melalui berbagai sisi dan makna.







Salam dari mahasiswa tingkat akhir yang berusaha mengembalikan hidup nya lagi pasca Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Area lampiran

Komentar

Postingan Populer