Langgengnya Tradisi Pengucapan Syukur di Tanah Minahasa
Setiap daerah
memiliki tradisi khusus yang telah dibudayakan sejak lama oleh masyarakat nya.
Seperti tradisi “Pengucapan Syukur” yang dilaksanakan oleh masyarakat Minahasa,
Sulawesi Utara. Konon katanya, tradisi Pengucapan Syukur ini sudah cukup lama
menjadi acara rutin yang selalu diadakan setiap tahunnya, terutama saat panen
raya tiba. Secara historis, acara pengucapan tersebut berasal dari tradisi
Rumages, yang merupakan bahasa tua tou=orang, berasal dari kata rages, artinya
persembahan yang diberikan untuk Tuhan dengan ketulusan hati. Salah satu warga
juga mengatakan bahwa tradisi Pengucapan Syukur dilakukan dalam rangka berbagi
berkah atas rezeki yang diperoleh.
Pada
tanggal 24 Juli 2016 lalu, seluruh masyarakat di open house, yang
rata-rata diisi dengan acara makan bersama. Menurut crita dari Willy Sela,
selaku Kepala Hukum Tua Desa Leilem 2, tradisi Pengucapan Syukur ini hampir
mirip dengan acara Galungan yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Dalam acara open house ini, biasanya masyarakat
menyajikan masakan berbahan dasar daging babi sebagai hidangan utama
dirumahnya. Hidangan lainnya adalah berbagai masakan khas Sulawesi Utara
seperti, Woku dan Ikan Cakalang. Dilengkapi dengan hidangan penutup khas disana
yaitu, klappertart.
![]() |
| Desa Leilem Raya, Minahasa |
Kabupaten Minahasa melaksanakan tradisi ini setelah melakukan ibadah di gereja. Tak terkecuali warga Desa Leilem Raya yang terletak di Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa. Hari itu, kondisi lalu lintas di sepanjang Jalan Raya Tomohon-Kawangkoan tak seperti biasanya. Kali ini jalanan cukup ramai oleh beberapa orang yang berlalu lalang, mengunjungi dan bersilaturahmi menemui saudara maupun kerabat mereka. Begitu juga dengan kondisi Desa Leilem Raya. Di hari Pengucapan Syukur, beberapa warga mengadakan acara
Selain
silaturahmi dengan kerabat dan keluarga, suasana yang tergambar dalam acara
Pengucapan Syukur juga identik dengan berpesta. Sejak dulu, masyarakat Minahasa
terkenal dengan budaya mereka yang suka berpesta. Berpesta adalah wujud rasa syukur mereka
terhadap sesuatu. Kebiasaan berpesta yang masih membudaya ini, tentunya tidak
membutuhkan modal materi yang sedikit. Bagi yang kondisi ekonominya
berkecukupan, mereka tak tanggung-tanggung untuk menyisihkan uangnya demi
mewujudkan rasa syukurnya itu. Selain itu melalui perayaan ini, mereka dapat
menguatkan ikatan sosial sesama warga.
Saat
itu, sekelompok mahasiswa tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM, sedang bertugas
mengabdi di tanah Minahasa. Di hari Pengucapan Syukur itu, mereka ikut
menghormati tradisi ini dengan mengunjungi beberapa rumah wargan. Kedatangan
seromobongan mahasiswa yang mayoritas muslim itu disambut hangat oleh
masyarakat. Salah satu perilaku yang menandakan bahwa warga Desa Leilem Raya
mempunyai sikap ramah dan toleransi yang baik terhadap para pendatang. Dengan
berbagai kebaikan dan nilai-nilai positif yang diberikan. Semoga budaya
Pengucapan Syukur ini tetap lestari.
Referensi:
Manado Tribun News
Seputar Sulut
Lokasi foto: Desa Leilem Raya, Minahasa, Sulawesi Utara
Lokasi foto: Desa Leilem Raya, Minahasa, Sulawesi Utara



Komentar
Posting Komentar