Lampu Sein Mati, Gagal "Belok Kiri"
Sebelas bulan telah berlalu, selama itu ku setia berkencan
dengan tugas akhir dan dosen pembimbing. Hari demi hari hanya menunggu sebuah
lembaran bertuliskan acc dan tanda tangan, demi sebuah perjuangan mendapatkan
lembaran fana bernama ijazah. Jam demi jam menatap layar laptop yang sesak akan
jendela website dan email. Sesekali juga menyeruput kopi dan berusaha lari dari
godaan telepon pintar yang kian ganas itu. Di pertengahan bulan Agustus lalu,
ku nyatakan bahwa kami resmi bercerai.
Ku sadari bahwa niatanku memperjuangkan segala jawaban
penelitian ini, tidak lebih dari sekedar mencari nilai dan gelar. Namun, ada
idealisme yang masih ku coba canangkan, meski hanya berupa perspektif
sederhana. Berbagai pemikiran kritis yang selama ini di gadang-gadang oleh para
akademisi itu, salah satunya ku jadikan sebagai kacamata dalam melihat isu.
Belum jauh dari pintu gerbang, penolakan itu kembali terjadi. Lagi-lagi, kegiatan
bermain perspektif ini diistirahatkan, dihentikan, atau mungkin ingin
dibungkam?. Padahal, aku hanya ingin ratusan lembar gagasan ini bisa dinilai
layak sebagai buah karya anak sosial yang empat tahun lamanya begelut dengan
kitab-kitab kiri. “Ya sudah, tak apa”, kata ku dalam hati, menghargai perbedaan
pendapat yang sudah biasa ku telan sehari-hari.
![]() |
| Hutan Pinus Lahendong |
Hampir satu bulan berlalu. Walau telah resmi berpisah dengan
ratusan lembar karya akhir itu, aku tetap tak bisa berpisah dengan kopi instan
yang luar biasa menjadi candu. Aku ingin mempertahankan canduku dengan ide dan
gagasan kritis itu, seperti canduku dengan kopi instan. Belajar berpikir kritis
itu, seperti membangun suatu idealisme mahasiswa sosial. Idealisme adalah
sebuah kekayaan milik anak muda yang masih tersisa. Fase kehidupan silih
berganti, idealisme dalam berpikir ini semakin jauh dari kata utuh. Saat ini
mungkin lebih layak ku sebut sebagai remahan. Kecewa karena hanya bisa membisu diatas
kesempatan besarku belajar mengkritik. Pada kesempatan berikutnya, di mana pun
jalannya, ku ingin memelihara remahan-remahan idealisme pemikiran yang tersisa
ini. Sebuah kekayaan abadi mahasiswa sosial yang jarang mereka sadari.



Komentar
Posting Komentar