Tentang Vaksin, Windows KW, dan Minyak Babi


Rumah tercinta
Kali ini saya ingin mengeluarkan unek-unek soal ketiga isu di atas. Kalau dibaca ulang lagi judulnya, kok ndak nyambung ya? hehe. Sebetulnya begini, soal vaksin saya terinspirasi dari kabar vaksin yang mengandung babi, yang kini masih ramai diperbincangan oleh netizen. Dari salah satu media mainstream pernah menyampaikan bahwa, MUI telah memperbolehkan masyarakat untuk imunisasi dengan vaksin tersebut, meskipun mengandung babi. Hal ini atas dasar demi mencegah virus atau penyakit berbahaya. Mau tidak mau harus begitu dalam situasi yang sudah kepepet. Karena kita sendiri tentu paham kalau babi hukumnya haram untuk dikonsumsi umat islam. Meskipun MUI sudah mengizinkan, kabarnya salah satu provinsi di Indonesia tetap menunda pemberian vaksin ini kepada anak-anak, karena alasan tertentu yang tidak bisa saya pastikan.


Nah, membaca gonjang ganjing vaksin ini, saya jadi teringat lagi salah satu tweet viral tentang masyarakat Indonesia yang masih belum bisa lepas dari budaya pembajakan. Isu ini juga pernah dibahas melalui podcast (saya lupa podcastnya siapa). Setelah banyak berdiskusi, dari kedua media sosial tersebut menyimpulkan bahwa, kegiatan pembajakan sejatinya tidak boleh dilakukan dan kalau kita kaitkan dengan agama, tindakan ini haram hukumnya. Katanya sih, berarti kalau kita bekerja menggunakan laptop yang windows-nya KW, berarti rejeki yang kita dapatkan tidak berkah dan otomatis haram juga. Hmm..saya jadi agak kepikiran dengan semua kesimpulan ini, karena jujur saya juga masih mengkonsumsi barang-barang KW. Bukan tidak sengaja sih pastinya, sebab kemampuan finansial memang terbatas dan menyesuaikan kebutuhannya juga. Itu lah pertimbangan saya ketika saya harus beli barang original atau KW.

Sementara itu, jujur lagi nih, sebagian besar penghasilan saya juga datang dari laptop ber-windows KW ini. Duh, apa berarti rejeki yang saya dapat tidak berkah ya?. Kalau vaksin yang mengandung babi saja akhirnya dihalalkan karena untuk kepentingan yang baik. Lalu bagaimana dengan nasib orang yang kerja pakai windows bajakan demi sesuap nasi?. Ini mirip dengan cerita film barat (lagi-lagi lupa judulnya), tentang orang yang suka merampok dan uang hasil rampkannya itu untuk menolong orang. Ah dilema saya tuh jadinya.

Lanjut lagi soal minyak babi. Dua tahun lalu saya melaksanakan keajiban akademik saya yaitu, KKN di Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Singkat cerita, lokasi desa tempat saya tinggal penduduknya beragama kristen semua. Mengkonsumsi daging babi tentu sudah jadi hal yang umum, bahkan masak makanan sayur atau daging yang lain pun mereka masih menggunakan minyak babi. Sebelum saya tahu kalau rata-rata masakan di sini dimasak pakai minyak babi, saya sempat tak sengaja makan ikan goreng yang dimasak dengan minyak babi. Saya pun terheran-heran kenapa bisa seenak ini. Baru deh teman saya kasih tahu, kalau warga di sini hampir semuanya menggunakan minyak babi untuk masak apapun. Oh jadi itu ya rahasianya kenapa bisa enak banget gini? wkwk ampun. Beberapa teman saya bilang, cari makanan halal di sini sulit. Disamping kelelahan dan makan tidak teratur, karena survei ke banyak tempat dalam 1 hari, plus mengerjakan program, banyak teman-teman saya yang akhirnya jatuh sakit. Jadi makan makanan yang dimasak minyak babi boleh-boleh saja dari pada sakit, begitu saran dari teman saya. Kalau dari aturan agama saya kurang paham juga, apakah diperbolehkan jika kondisinya sudah mendesak. Apakah bisa dihalalkan sama seperti kasus vaksin yang mengandung babi itu.

Demikian rupa-rupa pikiran saya. Kadang kebingungan-kebingungan macam ini yang bikin saya bengong kelamaan di atas closed. Saya tidak terlalu memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut harus dijawab. Namun, kalau barang kali ada yang ingin berbagai jawaban boleh banget. Dengan hal-hal kepepet seperti di atas, bukan berarti saya enjoy melakukan sesuatu yang dilarang secara moril dan agama. Percayalah, saya juga ingin hijrah ke barang-barang original huhu. 





Komentar

Postingan Populer