7 Momen Bulan Ramadhan Mahasiswa KKN di Tanah Pengabdian
Sebelum mesuk
ke pembahasan inti, saya mau bilang aja kalau tulisan ini saya buat menjelang
lebaran. Mau ku kirim ke salah satu website artikel gitu ceritanya. Tapi ya gitu,
kebiasaan jelek saya, mager berburu wifi buat kirim ke website. Sampai akhirnya
nih tulisan so basi dan jelas ngga layak di post. Untung masih punya blog, jadi
bisa ngepost kapan aja sesuka hati. Mumpung lagi rindu masa-masa KKN yang penuh
arti, disini saya mau ngobrol dikit sama kalian-kalian yang udah menyempatkan
waktu buka blog saya yang absurd ini. Mungkin ngga berfaedah sih, tapi aku
pengen ngepost. Ngga papa kan ya?.
Jadi begini, sebagian
Universitas melaksanakan program KKN tepat di Bulan Ramadhan hingga melewati
Hari Raya Idul Fitri. Bagi yang mendapatkan tugas mengabdi tidak jauh dari
kampus atau tempat tinggalnya, saat Bulan Ramadhan atau lebaran tiba, mereka
bisa libur sejenak dan kembali ke kampung halaman berkumpul dengan keluarga.
Sedangkan mahasiswa yang bertugas mengabdi di luar pulau hingga ke daerah
perbatasan, agak sulit bagi mereka untuk pulang ke kampung halaman. Selain
karena waktu libur yang diberikan cukup singkat, biaya untuk perjalanan pulang
juga relatif mahal, sehingga mau tidak mau banyak mahasiswa yang menghabiskan
Bulan Ramadhan sampai lebaran di tanah pengabdian.
Banyak suka
duka sekaligus tantangan bagi mahasiswa yang sedang KKN di Bulan Ramadhan.
Setiap daerah memiliki lingkungan dan kebudayaan yang berbeda-beda, sehingga
mahasiswa harus banyak beradaptasi, terutama saat Bulan Ramadhan tiba. Ada beberapa
hal-hal yang biasa dilakukan oleh mahasiswa KKN saat Bulan Ramadhan hingga
lebaran tiba:
1. Kesulitan
mencari makanan yang cocok untuk makan berbuka dan sahur
Masakan tiap
daerah memiliki ciri khas nya masing-masing, terutama dari rempah-rempah atau
bahan dasar yang dipakai untuk memasaknya. Seringkali mahasiswa KKN sulit
menyesuaikan lidahnya dengan masakan daerah lain. Selain itu, terkadang harga
makanan di pulau lain relatif lebih mahal. Mahasiswa KKN dengan uang saku atau
uang kas tim yang terbatas, harus pintar berhemat, mengingat uangnya juga untuk
menutupi biaya program KKN.
2. Berebut
takjil saat buka puasa.
Sulitnya mencari
makanan yang cocok dengan lidah dan uang yang terbatas, membuat mahasiswa KKN
selalu tidak sabar menyantap makanan buka puasa yang dibeli oleh salah satu
teman, atau pemberian dari warga setempat. Selalu sensitif jika ada makanan di
atas meja. Biasanya pada tanya “ini makanan diatas meja punya siapa?” atau
meraba-raba bungkus makanan yang tergeletak di atas meja padahal udah habis
makanannya.
3. Sering
bangun sahur kesiangan atau bahkan tidak sahur.
Untuk yang
mahasiswa yang belum terbiasa merantau, mungkin bangun pagi sendiri menjadi
salah satu kebiasaan yang harus dimulai, apalagi bangun untuk sahur. Biasanya
mahasiswa KKN pada kompak pasang alarm. Tetapi, sialnya alarm handphone
masing-masing sudah berbunyi massal, tetap saja bangun kesiangan. Alhasil
banyak yang sahurnya terburu-buru atau bahkan tidak sahur sama sekali.
4. Ramai-ramai
naik angkot ke masjid buat shalat ied.
Bagi yang lokasi
KKN nya cukup terpencil atau tempat ibadahnya cukup jarang di lokasi KKN nya,
untuk menuju masjid besar mahasiswa KKN perlu menyewa kendaraan. Beberapa hari
menjelang lebaran biasanya mahasiswa sudah lebih dulu menyewa angkot untuk
pergi ke tempat ibadah sholat ied.
5. Siapin
tempat bagus untuk foto lebaran 1 tim.
Nah, ini momen
yang paling dinanti. Bagi mahasiswa KKN, merayakan lebaran dengan teman adalah
momen langka seumur hidup. Mereka mengabadikan momen ini dengan foto bersama.
Kalau biasanya foto bersama keluarga besar, kali ini foto bersama dengan
teman-teman 1 tim KKN. Biasanya pada cari rumah warga yang able untuk foto-foto, lalu upload ke media sosial masing-masing.
6. Sibuk
dengan handphone masing-masing untuk menghubungi keluarga.
Saat hari
lebaran tiba, mahasiswa KKN tidak lupa siap dengan handphone dan pulsanya untuk
menghubungi keluarga masing-masing. Ada juga yang siapin kuota untuk grup call via line atau whatsapp dengan teman-teman nya.
![]() |
| Balai Desa Leilem Raya, Minahasa |
7. Makan
bersama gratis disediakan oleh Kepala Desa.
Biasanya sehari
sebelum lebaran, pada masak bersama untuk 1 tim. Ada juga yang beruntung tidak
perlu masak, karena makanan sudah disiapkan oleh Kepala Desa dan warga
setempat.



Komentar
Posting Komentar